JEJAK [3]

by - 6:36 PM





Message

And the blood will dry, underneath my nails. And the wind will rise up, to fill my sails. So you can doubt, and you can hate. But i know, no matter what it takes. I’m coming home – Skylar Grey.


Dengan masih menggunakan piyama yang sekarang ditutupi jaket, Alia dengan telaten meliput sebuah demo besar di jalan silang Monas dan pelataran Monas. Demo yang menuntut keadilan atas kasus pembunuhan yang tidak juga usai sejak dua bulan lalu. Banyaknya orang yang berlalu-lalang dan sesaknya tempat tidak membuat Alia menurunkan semangatnya meliput.

Bersama Brigitta, reporter yang menjadi rekan kerjanya, Alia membuat berita dengan sangat apik dan pengambilan gambar yang baik. Tak perduli bagaimana sinar matahari menyengat kulitnya.

“...Ya, seperti itulah gambaran situasi silang Monas pada siang ini terkait demo untuk menuntut penyelesaian kasus pembunuhan yang masih belum menemukan titik terangnya. Ratusan pendemo berharap hukum akan tetap bersikap tegas dan adil untuk mengusut kasus ini sampai tuntas.  Saya kembalikan ke studio,” ujar Brigitta menutup sesi live berita.

Alia menghembuskan napasnya setelah berusaha untuk menahan gemetar pada tubuhnya yang harus meliput kasus ini secara terus menerus. Ya, kasus yang tidak banyak orang tau, bahwa Alia terlibat di dalamnya. Kasus yang membuat Alia tidak dapat tidur tenang, bahkan untuk sekedar menghirup udara pun sesak.

“Mbak, minum dulu.”

Salah seorang panitia demo yang sedang berjaga di sekitar menawari Alia sebotol air mineral. Gadis itu mengangguk,”Makasih.”

“Dari tv mana, Mbak?” tanya laki-laki itu basa-basi.

“Sinar Dunia TV, Mas,” ujar Alia seraya merogoh kantong jaketnya dan menyerahkan kartu nama miliknya.

Alia menghela napasnya kasar. Lalu, ia menenggak air mineral yang membuat kerongkongannya terasa dingin dan lega. Setelah berjam-jam lamanya ia menahan haus karena harus meliput tanpa henti. Terlebih, ia harus menyingkirkan beban pikirannya terkait kasus pembunuhan yang ia lihat malam itu.

“Eh, bergetar. Sini minum!” teriak Alia pada Brigitta dengan panggilan khasnya – bergetar.

Yang dipanggil langsung menggerutu kala Alia mengganti namanya.

“Brigitta, Ya. Lidah lo tuh bermasalah, ya?” Gadis itu menekankan namanya pada Alia yang hanya dibalas dengan gedikan bahu.

“Sama aja, bergetar.”

Memasuki puncak demo yang diiringi dengan gemuruh suara peserta, Alia kembali bangkit dari duduknya dan menghidupkan kembali kameranya.

“Mau kemana, Ya? Gue baru mau duduk.”

“Bentar, ngeliput.”

Alia melihat ke arah Brigitta yang mulai sibuk memijit kakinya karena sakit setelah menggunakan hak tinggi selama beberapa jam.

“Kenapa lo?”

“Sakit nih kaki gue. Pegel pake sepatu.”

Dengan sedikit meledek, Alia memalingkan pandangannya sebelum akhirnya ia pergi,”Salah sendiri pake hak tinggi. Yang mau diliput kan muka lo, bukan kaki. Kecuali kaki lo bisa ngomong,” ucapnya asal.

Brigitta berdecak kesal. “Ck, sial.”

Alia harus sedikit berlari untuk mendapatkan gambar yang pas dengan momentumnya saat itu. Di tengah-tengah kerumunan, ia mulai sibuk menyorot satu per satu pendemo yang mulai menunjukkan taringnya.

Saking sibuknya menyorot, hingga ia tanpa sengaja menabrak salah seorang pendemo yang membuatnya hampir terjatuh.

Untung saja peserta demo dengan sigap menarik lengan Alia hingga tubuhnya mendapatkan keseimbangannya kembali.

“Duh, maaf maaf, Mas,” ujarnya yang tidak lagi menghiraukan beberapa lembar kartu namanya jatuh berserakkan.

“Iya, Mbak. Gak apa-apa,” laki-laki itu tersenyum ramah dan membiarkan Alia berlalu.

Matahari semakin terik, dan waktu sudah menunjukkan jam 2 siang. Alia mulai merasa dehidrasi karena kurangnya minum. Untungnya, aksi demo sudah hampir usai dan sebagian besar pendemo sudah mulai meninggalkan pelataran Monas.

“Yuk Alia pulang,” ajak Brigitta.

Alia masih sibuk menyeka keringatnya yang tak kunjung kering dari wajahnya. Ia melihat sekilas ke arah Brigitta yang sudah bersiap untuk kembali pulang ke kantor Sinar Dunia TV. Ia juga melirik ke arah kaki Brigitta yang sudah tidak mengenakan alas kaki.

“Lah, sepatu tinggi lo mana?”

“Nih,” katanya sambil menunjukkan kedua sepatu berhak tinggi yang ia jinjing. “Gue mau nyeker aja, biar keliatan lebih membumi dan menyatu dengan alam.”

Alia tertawa geli. “Lo pikir, lo host nature and travel, apa? Segala menyatu dengan alam. Gak sekalian lo ganti baju lo pake daun pisang? Gue ambilin nih kalo mau. Biar totalitas.”

Brigitta berdecak mendengar Alia meledeknya habis-habisan.

“Bawel, deh. Yaudah, gue capek, nih. Ayo.”

Alia berpikir sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. “Lo balik ke kantor aja sendiri. Kayaknya gue mau langsung pulang. Gak enak badan.”

“Lo sakit? Mau dianter gak?” tanya Brigitta khawatir pada kondisi rekannya itu.

“Gak usah. Gue nanti di jemput.”

“Sama siapa? Pacar, ya?”

“Iya,” jawab Alia dengan penuh antusias.

“Ih. Siapa?”

“Abang ojol alias ojek online,” jawab Alia sambil cengengesan.

“Ck. Tau ah. Yaudah, ya. Gue duluan, lo kalo ada apa-apa, kabarin gue.”

“Siap, bergetar.”

Tak lama saat kedua mata milik Alia sudah tidak lagi melihat Brigitta, ia pun memesan ojek online. Hanya butuh 3 menit, ia sudah berada dalam perjalanan pulang.

Jalanan siang ini memang sangat macet, karena berbarengan dengan para pendemo yang akan pulang. Untungnya, arah yang diambil Alia tidak sama dengan arah para pendemo. Jadi, ia bisa lebih cepat dan menghindari macet.

“Makasih, Bang,” ujar Alia setelah memberi 2 lembar uang lima ribuan pada ojek onlinenya.

Dengan langkah gontai, ia mengeluarkan kartu akses miliknya dan mulai menaiki lift apartment.

Lantai 13, lantai yang cukup jauh dari dasar. Untung saja naik lift, bayangin gimana capeknya kalo naik tangga.

Selagi masih ada lift, sepertinya gak akan ada juga yang naik tangga.

Baru saja Alia menginjakkan kakinya di kamar studio room miliknya, sebuah pesan singkat masuk memberi efek getar pada ponsel pintarnya.

I found you! 15.15 WIB
Long time no see? 15.16 WIB
I have a clue about you. Sinar Dunia TV, your phone number, and your address 15.17 WIB
Aku pastikan, aku akan segera mendatangimu. 15.18 WIB

Empat  sms masuk beruntun dengan nomer tak dikenal, sukses membuat Alia terduduk lemas tak berdaya. Menatap nanar layar ponselnya, tersirat rasa takut yang luar biasa disana.

Mati gue.

***

Di tempat berbeda, Pras yang masih berdiri di depan layar besar di Sinar Dunia TV, sibuk dengan pikirannya yang sejak tadi mengganggu.

“Kasihan keluarga yang dibunuh.”

“Iya, sampe sekarang aja masih belum ketauan siapa pembunuhnya.”

“Serem, ih. Pembunuhnya masih berkeliaran bebas. Jangan-jangan ada di sekitar kita lagi.”

Mata Pras fokus menatap layar, sedangkan telinganya fokus mendengarkan celotehan orang-orang mengenai kasus yang belum usai ini.

Coba aja ada saksi, pasti selesai nih kasus.”

Pras semakin gusar. Ia bingung. Ingin rasanya ia berjalan menjauhi obrolan orang-orang itu, tapi entah kenapa langkahnya terasa berat.

Satu saksi aja mungkin bisa merubah jalannya kasus ini.”

Laki-laki itu meremas topi miliknya dan mencoba untuk memaksakan langkahnya. Di ujung jalan, pikirannya terbagi menjadi dua.

Haruskah ia pulang ke tempatnya bekerja. Atau, menemui polisi yang menangani kasus ini, dan mendaftarkan dirinya menjadi saksi?

Malam itu...
Malam itu gue ada disana.
Emang, bukan di tempat TKP.
Tapi, gue ngeliat dia.

Dia... si pembunuh yang masih menghirup udara bebas tanpa rasa bersalah.




[Author Note]

Hmm... kira-kira, siapa ya pembunuhnya? 

You May Also Like

0 comments